Kelangkaan air bersih kini menjadi salah satu persoalan yang semakin mengancam kehidupan anak-anak di berbagai belahan dunia. Persoalan ini tidak hanya terjadi di wilayah yang memang memiliki keterbatasan sumber daya air. Bahkan negara dengan ketersediaan air yang relatif memadai pun dapat menghadapi krisis ketika infrastruktur distribusi runtuh, sumber air tercemar, konflik terjadi, atau pengelolaan sumber daya air tidak berjalan dengan baik.

Perubahan iklim turut memperburuk situasi tersebut. Bersama berbagai faktor yang disebabkan aktivitas manusia, perubahan iklim semakin mengurangi akses anak-anak terhadap air bersih dan sanitasi yang aman. Dua kebutuhan dasar yang seharusnya menjadi bagian dari hak setiap anak.

Ketika ketersediaan air menurun, dampaknya langsung dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Akses terhadap air untuk minum, mencuci, menjaga kebersihan rumah, sekolah, hingga fasilitas kesehatan menjadi semakin terbatas. Kondisi tersebut juga dapat mengganggu sistem sanitasi dan pembuangan limbah, sehingga risiko penyebaran penyakit yang ditularkan melalui air, termasuk kolera, meningkat. Di tengah keterbatasan pasokan, harga air pun cenderung semakin mahal.

Beban Lebih Besar bagi Perempuan dan Anak

Dampak kelangkaan air tidak dirasakan secara merata. Perempuan dan anak-anak menjadi kelompok yang sangat rentan karena di banyak wilayah mereka masih menjadi pihak yang bertanggung jawab mengambil dan membawa air untuk kebutuhan keluarga.

Semakin jauh sumber air dari tempat tinggal, semakin banyak waktu dan tenaga yang harus dikeluarkan untuk mendapatkannya. Bagi anak-anak, kondisi ini dapat mengurangi waktu untuk belajar dan bersekolah. Anak perempuan khususnya menghadapi dampak yang lebih besar ketika fasilitas air dan sanitasi di sekolah tidak memadai, mulai dari berkurangnya pendaftaran dan kehadiran hingga terganggunya prestasi belajar.

Perjalanan panjang untuk mengambil air juga menjadi beban fisik bagi anak-anak sekaligus meningkatkan kerentanan mereka terhadap berbagai risiko keselamatan dan eksploitasi.

Skala persoalan ini sangat besar. Sekitar empat miliar orang, atau hampir dua pertiga populasi dunia, mengalami kelangkaan air yang parah setidaknya selama satu bulan setiap tahun.

Sementara itu, lebih dari dua miliar orang hidup di negara yang mengalami kekurangan air bersih. Bahkan, separuh populasi dunia berpotensi tinggal di wilayah yang menghadapi kelangkaan air paling cepat pada 2025.

Ancaman tersebut diperkirakan terus membesar. Sekitar 700 juta orang berpotensi terpaksa mengungsi akibat kelangkaan air yang parah pada 2030. Pada 2040, sekitar satu dari empat anak di dunia diperkirakan tinggal di wilayah dengan tingkat tekanan air yang sangat tinggi.

Menghadapi Krisis dengan Berbagai Pendekatan

Mengatasi kelangkaan air bukan persoalan sederhana. Penyebabnya berbeda-beda antara satu negara dan wilayah dengan wilayah lainnya, sehingga penanganannya membutuhkan pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi setempat.

UNICEF menjalankan berbagai upaya untuk memperluas akses terhadap air bersih sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi kelangkaan air.

Salah satunya dilakukan dengan mengidentifikasi sumber daya air baru. Ketersediaan air dinilai melalui berbagai teknologi, mulai dari penginderaan jauh, survei geofisika hingga investigasi langsung di lapangan.

Upaya berikutnya adalah meningkatkan efisiensi pemanfaatan air. Jaringan distribusi air perkotaan dan sistem pengolahan air direhabilitasi untuk mengurangi kebocoran serta mencegah kontaminasi. Penggunaan kembali air limbah untuk kebutuhan pertanian juga didorong guna membantu melindungi cadangan air tanah.

Di wilayah perkotaan, perencanaan kebutuhan air untuk masa depan menjadi bagian penting dalam menghadapi risiko kekurangan pasokan. Ketersediaan sumber daya air dipetakan agar kota dapat mengantisipasi kemungkinan kehabisan air.

Kelangkaan air pada akhirnya bukan hanya persoalan berkurangnya sumber air. Krisis ini berkaitan langsung dengan kesehatan, pendidikan, keselamatan, kesetaraan, hingga masa depan anak-anak. Karena itu, memastikan ketersediaan air bersih dan sanitasi yang aman membutuhkan langkah bersama mulai dari pengelolaan sumber daya, pembangunan infrastruktur, perubahan perilaku, hingga kebijakan yang mampu mengantisipasi tekanan air di masa depan.

Sumber :

UNICEF

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.