WASHINGTON/TEHERAN – Ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat. Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington menginginkan kesepakatan dengan Teheran, namun jika tidak tercapai, AS siap mengambil langkah lebih keras terhadap Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump di tengah meningkatnya tekanan militer dan diplomatik terhadap Teheran. Ia menegaskan bahwa momen penentuan dalam konflik kedua negara semakin dekat.

Sebelumnya, Trump juga telah memperingatkan kemungkinan peluncuran kampanye udara berskala penuh terhadap Iran. Di tengah ancaman tersebut, pemerintah Iran menyatakan tetap membuka ruang negosiasi, tetapi menolak berunding di bawah tekanan maupun ancaman militer.

Menteri Luar Negeri Iran menegaskan negaranya siap menghadapi kemungkinan konfrontasi besar, sekaligus memastikan jalur diplomasi tetap ditempuh untuk mencari penyelesaian konflik.

Di sisi lain, Menteri Perang AS Pete Hegseth mengklaim operasi militer Amerika telah melemahkan kemampuan pertahanan Iran, termasuk sistem pertahanan udara, angkatan laut, angkatan udara, serta kemampuan yang berkaitan dengan program nuklirnya.

Meski tensi militer meningkat, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Pemerintah Iran disebut tengah mempelajari proposal tandingan dari AS yang berkaitan dengan upaya mengakhiri perang sekaligus membuka kembali Selat Hormuz.

Namun, posisi kedua negara masih berseberangan. Trump sebelumnya menolak usulan gencatan senjata selama tujuh hari yang diajukan Teheran.

Berdasarkan analisis Al Jazeera, Iran menginginkan mekanisme penghentian konflik dilakukan secara bertahap. Teheran disebut meminta penghentian pertempuran, pencabutan blokade laut AS, penghapusan sanksi terhadap sektor minyak, serta pencairan aset Iran yang dibekukan.

Setelah sejumlah tuntutan tersebut dipenuhi, Iran disebut mengusulkan Selat Hormuz dibuka kembali pada hari ketujuh sehingga lalu lintas maritim dapat kembali normal.

Tahap berikutnya baru diarahkan pada pembicaraan mengenai program nuklir Iran.

Skema tersebut menunjukkan bahwa meski ancaman militer terus mengemuka, kedua pihak masih memiliki jalur diplomatik yang sedang diuji. Persoalan utama kini berada pada urutan pelaksanaan kesepakatan, pencabutan tekanan ekonomi dan militer, serta jaminan bagi kedua pihak sebelum negosiasi nuklir dimulai.

Sumber: Vietnam.vn, Kompas, Al Jazeera

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.