Hujan turun di sejumlah wilayah di Kukar dan Samarinda saat tradisi Belimbur digelar, menghadirkan suasana yang seolah mempertemukan manusia, adat, dan alam dalam satu peristiwa.
TENGGARONG — Air kembali menjadi bagian dari sebuah peristiwa budaya yang telah hidup dan diwariskan selama ratusan tahun.
Di tengah riuh pelaksanaan Belimbur, tradisi yang menjadi salah satu rangkaian penting dalam perayaan adat Kesultanan Kutai Kartanegara, bukan hanya masyarakat di Tenggarong yang merasakan guyuran air. Hujan juga turun di sejumlah wilayah Kutai Kartanegara dan Kota Samarinda.
Bagi masyarakat, turunnya hujan pada momentum tersebut terasa istimewa. Setelah penantian panjang di tengah kemarau dan kabut asap, hujan seakan hadir pada saat yang tepat. Alam pun terasa ikut menyambut sebuah tradisi yang terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Belimbur merupakan ritual adat yang memiliki makna penyucian diri dan menjadi bagian dari rangkaian puncak penutupan Festival Erau di Kutai Kartanegara. Prosesi Belimbur diawali ketika Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin, yang menjabat sebagai sultan ke-21, memercikkan air suci yang disebut Air Tuli, yang diambil dari perairan Kutai Lama, tempat yang dikenal sebagai ibu kota kerajaan pertama. Dengan menggunakan mayang pinang, air tersebut dipercikkan ke empat penjuru mata angin sebagai bagian dari prosesi adat. Setelah Sultan memercikkan Air Tuli kepada keluarga kerajaan dan warga, masyarakat kemudian melanjutkan tradisi dengan saling menyiramkan air di jalan-jalan. Bukan sekadar luapan kegembiraan, percikan air dalam Belimbur mengandung makna sebagai simbol pembersihan diri dari sifat-sifat buruk sekaligus ungkapan rasa syukur.
Di sinilah nilai luhur Belimbur menemukan maknanya, sebuah tradisi yang tidak hanya menghadirkan kebersamaan, tetapi juga sarat akan filosofi tentang penyucian diri, rasa syukur, dan hubungan manusia dengan adat serta alam. Ketika air yang dipercikkan manusia berpadu dengan air yang jatuh dari langit, suasana Belimbur pun terasa semakin istimewa. Batas antara ritual dan keseharian seolah melebur. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi aktivitas berubah menjadi ruang kebersamaan. Tawa, keceriaan, dan kegembiraan masyarakat menjadi bagian dari wajah sebuah tradisi yang masih hidup.
Hujan yang turun di Tenggarong dan sejumlah daerah lain, termasuk Samarinda, pada Minggu, 27 September 2026, kemudian menjadi cerita tersendiri dalam pelaksanaan Belimbur tahun ini. Tidak ada yang dapat memastikan bahwa turunnya hujan merupakan pertanda tertentu. Namun, bagi masyarakat yang menyaksikan dan mengalaminya secara langsung, momen tersebut menghadirkan perasaan yang sulit diabaikan. Alam seolah turut mengambil bagian dalam sebuah perayaan adat yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Tradisi Belimbur kembali memperlihatkan kekuatannya. Bukan semata karena ritualnya masih dilaksanakan, melainkan karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya masih mampu mempertemukan masyarakat dalam suasana kebersamaan.
Belimbur pada akhirnya bukan hanya tentang air yang membasahi tubuh. Ia adalah tentang ingatan yang diwariskan, tentang adat yang dijaga, tentang masyarakat yang berkumpul, dan tentang kebudayaan yang terus mencari ruang untuk tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Dan ketika hujan benar-benar turun, membasahi Tenggarong hingga wilayah sekitarnya, masyarakat memiliki satu cerita tambahan untuk dikenang. Hari ketika Belimbur tidak hanya membasahi manusia, tetapi seakan-akan langit pun turut menyiram bumi.(*)



